Pemisahan Besar
Pada tahun 1917, seorang cendekiawan muda Tiongkok bernama Hu Shi (胡适 Hú Shì) menerbitkan sebuah artikel yang berargumen bahwa sastra Tiongkok harus ditulis dalam bahasa sehari-hari — baihua (白话 báihuà, "pidato biasa") — daripada bahasa sastra klasik yang telah mendominasi tulisan Tiongkok selama dua milenium. Puisi, ia nyatakan, harus memutuskan belenggu formal dari sajak teratur (律诗 lǜshī), dengan pola nada (平仄 píngzè), pasangan paralel, dan jumlah karakter yang tetap.
Dampaknya sangat besar. Dalam satu dekade, sebuah revolusi sastra telah mengubah tulisan Tiongkok. Puisi baru (新诗 xīnshī) — versi bebas yang ditulis dalam bahasa sehari-hari — menggantikan bentuk klasik sebagai mode dominan ekspresi puitis. Jueju (绝句 juéjù) dan lǜshī yang telah disempurnakan oleh Li Bai (李白 Lǐ Bái) dan Du Fu (杜甫 Dù Fǔ) tidak ditinggalkan, tetapi mereka secara tegas diabaikan. Puisi Tiongkok modern akan menjadi sesuatu yang baru.
Generasi Pertama: Xu Zhimo dan Wen Yiduo
Penyair Tiongkok modern paling awal menghadapi masalah yang canggung: bagaimana menulis puisi dalam bahasa yang tidak memiliki tradisi puitis? Bahasa Tiongkok klasik memiliki dua belas abad puisi Dinasti Tang (唐诗 Tángshī) dan ci Dinasti Song (宋词 Sòngcí) sebagai acuan. Bahasa sehari-hari Tiongkok memiliki lagu rakyat dan libretto opera — tidak kosong, tetapi tidak memiliki prestise tradisi yang ingin dibangun oleh para penyair ini.
Xu Zhimo (徐志摩 Xú Zhìmó, 1897–1931) memecahkan masalah ini dengan melihat ke barat. Dididik di Cambridge, ia menyerap puisi Romantis Inggris dan membawa kepekaannya kembali ke puisi bebas Tiongkok. "Perpisahan Kedua dengan Cambridge" (再别康桥 Zài Bié Kāngqiáo) adalah salah satu puisi terluhur di Tiongkok modern:
> 轻轻的我走了 (Dengan lembut aku pergi) > 正如我轻轻的来 (Seperti lembutnya aku datang) > 我轻轻的招手 (Aku melambai dengan lembut) > 作别西天的云彩 (Untuk awan di langit barat)
Pengulangan 轻轻 (qīngqīng, "lembut") menciptakan pola musikal yang menggema paralelisme klasik sambil bekerja dalam bahasa sehari-hari yang sepenuhnya modern. Xu Zhimo menunjukkan bahwa puisi baru bisa musikal tanpa mengikuti aturan lama.
Wen Yiduo (闻一多 Wén Yīduō, 1899–1946) mengambil pendekatan berlawanan: ia berargumen untuk disiplin formal. Teorinya tentang "tiga keindahan" (三美 sānměi) — keindahan musik, keindahan lukisan, dan keindahan arsitektur — menuntut puisi Tiongkok modern mengembangkan standar formalnya sendiri daripada sekadar meminjam kebebasan dari Barat.
Penyair Kabut: Pemberontakan Setelah Revolusi
Gerakan paling berpengaruh dalam puisi Tiongkok modern muncul dari puing-puing Revolusi Kebudayaan (文化大革命 Wénhuà Dà Gémìng, 1966–1976). Sebuah generasi penyair muda yang tumbuh selama kekacauan politik dan penindasan intelektual mulai menulis puisi yang dengan sengaja kabur, personal, dan menolak puisi propaganda yang telah mendominasi sastra Tiongkok selama beberapa dekade.
Mereka disebut "Penyair Kabut" (朦胧诗人 ménglóng shīrén) — label yang awalnya dimaksudkan sebagai kritik, yang menyiratkan bahwa karya mereka keruh dan tidak dapat dipahami. Para penyair menerima nama tersebut.
Bei Dao (北岛 Běi Dǎo, b. 1949) adalah yang