Ketidakkekalan Buddha dalam Puisi Tang: Segala yang Anda Cintai Akan Menghilang

Ajaran Buddha tentang ketidakkekalan (无常, wúcháng) cukup sederhana untuk dinyatakan: tidak ada yang abadi. Segala sesuatu yang muncul akan lenyap. Tubuhmu, hubunganmu, kekaisaranmu, gunung yang kamu lihat — semuanya sedang dalam proses menghilang, sekarang juga, saat kamu membaca kalimat ini.

Mudah untuk dinyatakan. Menghancurkan untuk benar-benar dirasakan.

Penyair dinasti Tang merasakannya. Mereka hidup dalam suatu peradaban yang, menurut standar abad ke-7 dan ke-8, luar biasa sukses — dan mereka menyaksikan peradaban itu retak. Pemberontakan An Lushan (安史之乱, Ān Shǐ zhī Luàn, 755–763 M) mengakibatkan kematian sekitar 36 juta orang, sekitar dua per tiga dari jumlah penduduk terdaftar kekaisaran. Sebelum pemberontakan, Tiongkok pada masa Tang adalah peradaban terkaya dan paling kosmopolitan di bumi. Setelahnya, dinasti itu bertahan selama 150 tahun lagi tetapi tidak pernah pulih kepercayaan dirinya.

Trauma sejarah ini bertabrakan dengan filosofi Buddha untuk menghasilkan beberapa puisi paling kuat tentang kehilangan yang pernah ditulis dalam bahasa apapun. Bukan kehilangan sebagai sentimentalitas — kehilangan sebagai metafisika. Penyair Tang tidak hanya meratapi apa yang telah hilang. Mereka mempertanyakan sifat dari perolehan itu sendiri.

Ketidakkekalan Sebelum Dinasti Tang: Fondasi Buddha

Agama Buddha tiba di Tiongkok pada masa dinasti Han (sekitar abad ke-1 M) dan menghabiskan beberapa abad untuk diserap, ditolak, dan diubah oleh budaya Tiongkok. Pada masa Tang, konsep-konsep Buddha telah meresap dalam pemikiran terdidik Tiongkok sedemikian rupa sehingga bahkan penyair yang bukan penganut Buddha pun menggunakan kosakata dan cara pandang Buddha.

Istilah-istilah kunci:

| Konsep | Cina | Pinyin | Sanskerta | Arti | |---|---|---|---|---| | Ketidakkekalan | 无常 | wúcháng | anicca | Tidak ada yang memiliki eksistensi tetap dan abadi | | Penderitaan | 苦 | kǔ | dukkha | Menggenggam pada hal-hal yang tidak kekal menyebabkan rasa sakit | | Tanpa diri | 无我 | wú wǒ | anattā | Tidak ada diri yang tetap dan tidak berubah | | Kekosongan | 空 | kōng | śūnyatā | Semua fenomena tidak memiliki eksistensi yang melekat | | Asal ketergantungan | 缘起 | yuánqǐ | pratītyasamutpāda | Segala sesuatu timbul bergantung pada kondisi |

Dari semua ini, ketidakkekalan adalah konsep yang paling mempengaruhi penyair Tiongkok. Budaya Tiongkok sudah memiliki tradisi yang kuat untuk meratapi berlalunya waktu — genre huaigu (怀古, "refleksi tentang masa lalu") sudah ada sebelum Buddhisme di Tiongkok. Namun, Buddhisme memberikan kerangka filosofis pada melankolis lokal ini dan, yang sangat penting, potensi resolusi: jika kamu benar-benar memahami ketidakkekalan, kamu berhenti menggenggam, dan penderitaan berhenti.

Kebanyakan penyair Tang memahami bagian pertama (segala sesuatu akan berlalu) tetapi berjuang dengan bagian kedua (jadi berhentilah menggenggam). Perjuangan itulah yang membuat puisi mereka hebat.

Li Bai: Sang Pecandu dan Kekosongan

Li Bai (李白, Lǐ Bái, 701–762) biasanya tidak diklasifikasikan sebagai penyair Buddha. Dia lebih dikenal dengan Daoisme, anggur, dan mitologi diri yang megah. Namun, tema ketidakkekalan mengalir dalam karyanya seperti sungai bawah tanah.

Puisi terkenalnya mengenai topik ini:

将进酒 (Qiāng Jìn Jiǔ) — Bawalah Anggur

> 君不见黄河之水天上来 (jūn bù jiàn Huánghé zhī shuǐ tiān...

Tentang Penulis

Pakar Puisi \u2014 Penerjemah dan sarjana sastra yang berfokus pada puisi dinasti Tang dan Song.

Share:𝕏 TwitterFacebookLinkedInReddit