Penyair di Perbatasan
Dinasti Tang (618-907 M) adalah sebuah kekaisaran yang ekspansionis. Pasukannya bertarung di Asia Tengah, Tibet, Korea, dan Vietnam. Ribuan prajurit, pejabat, dan administrator ditempatkan di pos-pos perbatasan yang terpencil, kadang-kadang selama bertahun-tahun.
Beberapa di antara mereka menulis puisi. Hasilnya adalah kumpulan karya yang disebut "puisi perbatasan" (边塞诗, biānsài shī) yang termasuk di antara sastra perang terbaik dalam bahasa manapun.
Wang Wei: Perpisahan yang Enggan
Wang Wei (王维, 701-761) terutama merupakan penyair alam, tetapi puisi beliau "Melihat Mengantar Yuan Er dalam Misi ke Anxi" adalah salah satu puisi yang paling sering dikutip dalam sastra Tionghoa:
渭城朝雨浥轻尘 / Hujan pagi di Kota Wei melembapkan debu ringan 客舍青青柳色新 / Rumah tamu hijau, warna willow segar 劝君更尽一杯酒 / Aku mendorongmu — minum satu cangkir lagi 西出阳关无故人 / Di sebelah barat Gerbang Yang, tidak ada teman lama
Puisi ini tentang perpisahan — seorang teman yang dikirim ke perbatasan barat. Baris terakhir sangat menghancurkan dalam kesederhanaannya: di luar gerbang, kau akan sendirian. Tidak ada orang yang kau kenal. Tidak ada yang peduli padamu. Hanya padang gurun dan tugas.
Puisi ini dinyanyikan dan menjadi salah satu lagu paling populer dari Dinasti Tang. Para prajurit menyanyikannya saat mereka berbaris ke barat. Ini sekaligus menjadi lagu minum dan sebuah ratapan.
Gao Shi dan Cen Shen: Spesialis Perbatasan
Gao Shi (高适, 704-765) dan Cen Shen (岑参, 715-770) keduanya bertugas di perbatasan dan menulis secara ekstensif tentang pengalaman tersebut.
"Nyanyian Yan" karya Gao Shi menggambarkan realitas perang di perbatasan dengan kejelasan yang tanpa ragu:
战士军前半死生 / Setengah dari prajurit di depan sudah mati atau sekarat 美人帐下犹歌舞 / Wanita cantik di tenda jenderal masih bernyanyi dan menari
Dua baris. Kontras antara prajurit yang sekarat dan jenderal yang berpesta adalah seluruh argumen anti-perang, dipadatkan menjadi empat belas karakter.
Cen Shen mengambil pendekatan yang berbeda. Puisi-puisi perbatasannya adalah deskripsi yang hidup, hampir halusinogenik dari lanskap Asia Tengah — salju yang turun di bulan Agustus, angin yang mematahkan tiang bendera, gurun di mana pasirnya terlihat seperti laut. Puisi-puisinya membuat perbatasan terasa asing, indah, dan mengerikan sekaligus.
Du Fu: Perang sebagai Trauma Nasional
Du Fu (杜甫, 712-770) tidak bertugas di perbatasan. Ia mengalami perang dari sisi sipil — sebagai pengungsi selama Pemberontakan An Lushan (755-763), yang diperkirakan menewaskan 36 juta orang (sekitar satu per enam populasi dunia pada saat itu).
"Balada Gerbong Tentara" (兵车行) menggambarkan prajurit yang direkrut:
车辚辚,马萧萧 / Gerbong bergemuruh, kuda bersuit 行人弓箭各在腰 / Setiap orang yang berbaris membawa busur dan panah di pinggang 爷娘妻子走相送 / Orang tua, istri, dan anak-anak berlari di samping untuk mengantar mereka 尘埃不见咸阳桥 / Debu begitu tebal sehingga tidak bisa melihat Jembatan Xianyang
Puisi ini berlanjut dengan seorang prajurit menggambarkan bagaimana mayat begitu banyaknya sehingga tulang mereka digunakan untuk membangun dinding. Ini adalah salah satu puisi anti-perang paling kuat yang pernah ditulis, dan ditulis lebih dari seribu tahun yang lalu.