Masalah Kelangsungan Hidup
Bagi setiap penyair wanita yang karyanya bertahan dalam sejarah sastra Tiongkok, puluhan – mungkin ratusan – hilang. Tulisan perempuan tidak dikumpulkan, dilestarikan, atau diantologikan secara sistematis. Ia bertahan melalui kecelakaan, melalui upaya para editor laki-laki yang bersimpati, dan melalui kualitas yang membuatnya mustahil untuk diabaikan.
Li Qingzhao (李清照, 1084-1155): Yang Terbesar
Li Qingzhao secara universal diakui sebagai penyair wanita terhebat dalam sejarah Tiongkok – dan salah satu penyair terhebat dari jenis kelamin apa pun. Lirik ci (词) miliknya menggabungkan penguasaan teknis dengan keterusterangan emosional yang tidak biasa pada zamannya.
Puisi awalnya, yang ditulis saat pernikahannya yang bahagia dengan cendekiawan Zhao Mingcheng, menangkap kepuasan rumah tangga dengan kekhususan yang mengejutkan:
"Tadi malam, hujan jarang turun dan angin kencang / Tidur nyenyak tidak menghilangkan sisa anggur / Aku bertanya kepada pelayan yang menggulung tirai / Dia berkata: kepitingnya sama seperti sebelumnya / Tahukah kamu? Tahukah kamu? / Yang hijau harus montok dan yang merah harus tipis"
Puisi itu tentang pagi yang mabuk dan pohon berbunga. Namun kalimat terakhirnya — "yang hijau harus montok dan yang merah harus tipis" - memiliki makna yang berat: bunga-bunga telah rusak karena badai, dan penyair mengetahuinya sebelum dia melihatnya. Pengetahuan itu ada di tubuhnya, bukan di matanya.
Puisi-puisinya selanjutnya, yang ditulis setelah kematian suaminya dan selama kekacauan invasi Dinasti Jin, adalah salah satu ekspresi kesedihan dan pengungsian yang paling menghancurkan dalam sastra Tiongkok.
Xue Tao (薛涛, 768-831): Diplomat
Xue Tao adalah seorang pelacur di Chengdu yang menjadi salah satu penyair paling dihormati di Dinasti Tang. Dia berkorespondensi dengan tokoh sastra besar pada masanya, termasuk Yuan Zhen dan Bai Juyi, dan dinominasikan (meskipun tidak pernah diangkat) sebagai pejabat pemerintah.
Xue Tao menemukan kertas puisi gayanya sendiri — lembaran kecil berwarna yang kemudian dikenal sebagai "kertas Xue Tao" (薛涛笺) dan tetap populer selama berabad-abad. Dia bukan hanya seorang penyair. Dia adalah seorang pengusaha budaya.
Yu Xuanji (鱼玄机, 844-868): Pemberontak
Yu Xuanji adalah seorang biarawati dan penyair Daois yang dieksekusi pada usia 24 tahun karena diduga membunuh pembantunya. Puisinya berani, sensual, dan penuh kemarahan — kualitas yang membuatnya terkenal sekaligus kontroversial.
Kalimatnya yang paling banyak dikutip: "自恨罗衣掩诗句,举头空羡榜中名" — "Aku benci jubah sutraku menyembunyikan puisiku / Aku mencari dan iri pada nama-nama di papan ujian." Kalimat tersebut mengungkapkan rasa frustrasi seorang perempuan berbakat dalam sistem yang mengecualikan perempuan dari jalan menuju pengakuan yang terbuka bagi laki-laki.
Pola Kelangsungan Hidup
Para penyair perempuan yang bertahan dalam catatan sastra memiliki karakteristik tertentu: mereka berasal dari keluarga elit (yang memberi mereka akses terhadap pendidikan), pelacur (yang keterampilan sastranya dihargai secara profesional), atau biarawati (yang status agamanya memberi mereka kebebasan dari kewajiban rumah tangga).
Perempuan biasa—istri petani, putri saudagar, pembantu rumah tangga—mungkin juga pernah menulis puisi. Kita tidak akan pernah tahu. Karya mereka tidak dilestarikan karena tidak ada yang menganggapnya layak untuk dilestarikan.
Mengapa Ini Penting Sekarang
Memulihkan suara perempuan dari sejarah sastra Tiongkok bukan sekadar upaya akademis. Ini mengubah pemahaman kita tentang tradisi itu sendiri. Puisi Tiongkok tidak hanya merupakan tradisi laki-laki — hal ini terlihat seperti itu karena sistem pelestariannya dikendalikan oleh laki-laki. Layak dibaca selanjutnya: Zhuo Wenjun: Wanita yang Menulis Kisah Cintanya Sendiri.
Para penyair perempuan yang selamat membuktikan bahwa bakat itu selalu ada. Pertanyaannya bukanlah apakah perempuan bisa menulis puisi yang bagus. Pertanyaannya adalah apakah ada orang yang mau repot-repot menyimpannya.