Petapa Puisi
Du Fu (杜甫 Dù Fǔ, 712–770) hidup dalam kemiskinan, gagal dalam ujian kekaisaran, tidak pernah memegang jabatan penting di pemerintahan, dan menghabiskan dekade terakhir hidupnya mengembara sebagai pengungsi. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai penyair berbakat namun kecil — dibayangi oleh Li Bai (李白 Lǐ Bái) sezamannya yang flamboyan, yang karisma kosmisnya menarik perhatian namun kebajikan Du Fu yang lebih tenang tidak menarik perhatian.
Kemudian berabad-abad berlalu. Pada Dinasti Song (宋朝 Sòngcháo), Du Fu diakui sebagai penyair terhebat dalam sejarah Tiongkok — "Orang Bijak Puisi" (诗圣 shīshèng). Reputasinya tidak pernah berkurang. Saat ini, ia secara universal dianggap sebagai ahli tertinggi syair yang diatur (律诗 lǜshī) dan kesadaran moral sastra Tiongkok. Semua yang dia derita, dia ubah menjadi seni. Semua yang disaksikannya, ia catat dengan penuh kasih sayang yang tak lekang oleh waktu.
Kehidupan Awal dan Ambisi yang Gagal
Du Fu dilahirkan dalam keluarga dengan tradisi sastra — kakeknya, Du Shenyan (杜审言 Dù Shěnyán), adalah seorang penyair Tang awal yang disegani. Ia tumbuh dengan harapan untuk mengikuti jalur standar: lulus ujian kekaisaran (科举 kējǔ), memasuki dinas pemerintahan, dan berkontribusi pada kekaisaran.
Dia gagal dalam ujian. Dia mencoba lagi dan gagal lagi. Alasannya masih diperdebatkan – campur tangan politik, banyaknya kandidat, nasib buruk – tetapi hasilnya sangat menentukan: Du Fu menghabiskan usia dua puluhan dan tiga puluhan dalam keadaan ambisi yang frustrasi, mengembara ke kekaisaran, menulis puisi, dan mengumpulkan pengalaman yang akan menjadi bahan bakar karyanya di kemudian hari.
Selama periode ini, dia bertemu Li Bai. Kedua penyair ini menghabiskan beberapa bulan bersama pada tahun 744, mengembara dan minum-minum dalam persahabatan sastra yang paling terkenal dalam sejarah Tiongkok. Du Fu menulis beberapa puisi tentang Li Bai — mengagumi, khawatir, penuh kasih sayang — yang mengungkapkan penghargaan mendalam terhadap seorang jenius yang temperamennya berlawanan dengan dirinya.
Pemberontakan An Lushan
Pemberontakan An Lushan (安史之乱 Ān Shǐ zhī Luàn) pada tahun 755–763 adalah malapetaka yang membuat Du Fu. Pemberontakan tersebut menewaskan sekitar tiga puluh enam juta orang dan menghancurkan Dinasti Tang (唐朝 Tángcháo). Du Fu menjalani semuanya: dia ditangkap oleh pasukan pemberontak di Chang'an, melarikan diri, berkumpul kembali dengan keluarganya yang kelaparan, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun mengembara di pedesaan yang dilanda perang.
"Pemandangan Musim Semi" (春望 Chūn Wàng) miliknya ditulis saat ditawan di ibu kota yang diduduki: Pembaca juga menyukai Li Bai vs Du Fu: Persaingan yang Mendefinisikan Puisi Tiongkok.
> 国破山河在 (Negara sudah rusak, tetapi gunung dan sungai tetap ada) > 城春草木深 (Musim semi di kota — rumput dan pepohonan tumbuh lebat) > 感时花溅泪 (Tersentuh oleh waktu, bunga bercucuran air mata) > 恨别鸟惊心 (Mendukakan perpisahan, burung mengagetkan hati)
Penguasaan puisi terletak pada penjajarannya: negara telah runtuh, namun alam tetap bertahan acuh tak acuh. Rumput tumbuh di atas reruntuhan. Burung berkicau di medan perang. Keindahan musim semi membuat kehancuran semakin parah, bukan berkurang.
Dokumen "Tiga Pejabat" (三吏 Sān Lì) dan "Tiga Perpisahan" (三别 Sān Bié) memaksa wajib militer dengan detail yang tak terlupakan. Dalam "Petugas di Shihao," Du Fu bersembunyi di sebuah rumah desa sementara agen pemerintah menyeret seorang wanita tua karena semua pria sudah mati atau hilang. Dia tidak melakukan intervensi. Dia tidak melakukan editorial. Dia menyaksikan dan mencatat – dan kesaksiannya lebih menghancurkan daripada polemik apa pun.
Periode Chengdu
Setelah pemberontakan, Du Fu menetap sebentar di Chengdu, di mana teman-temannya membantunya membangun gubuk jerami (草堂 cǎotáng) yang kemudian menjadi salah satu kuil sastra yang paling banyak dikunjungi di Tiongkok. Tahun-tahun Chengdu (759–765) adalah tahun-tahun Du Fu yang paling dekat dengan perdamaian.
Puisi-puisinya dari periode ini mencakup beberapa karyanya yang paling disukai. "Malam Musim Semi Menikmati Hujan" (春夜喜雨 Chūn Yè Xǐ Yǔ) merayakan hujan yang menyuburkan tanaman Chengdu:
> 好雨知时节 (Hujan yang baik mengetahui musim yang tepat) > 当春乃发生 (Terjadi saat musim semi tiba) > 随风潜入夜 (Ia menyelinap bersama angin, tanpa suara, di malam hari) > 润物细无声 (Melembabkan segala sesuatu dengan lembut, tanpa suara)
Hujan adalah sebuah metafora untuk pemerintahan yang baik, untuk kebaikan yang berjalan tanpa mengiklankan diri sendiri. Tapi itu juga hanya hujan. Kejeniusan Du Fu adalah ketidakterpisahan antara yang literal dan metaforis — hujan adalah fenomena alam dan gagasan moral, dan tidak ada bacaan yang meniadakan yang lain.
Penguasaan Teknis: Arsitektur Syair
Du Fu adalah teknisi tertinggi puisi Tiongkok. Penguasaannya terhadap bentuk lǜshī — pola nadanya (平仄 píngzè), bait paralel, dan skema rima — begitu lengkap sehingga persyaratan formal yang paling menuntut terasa tidak terlihat. Anda tidak memperhatikan arsitekturnya karena arsitekturnya sempurna.Urutan "Meditasi Musim Gugur" (秋兴 Qiū Xìng) - delapan puisi lǜshī yang disusun selama tahun-tahun terakhirnya - adalah puncak mutlak dari bentuk tersebut. Setiap puisi mempertahankan pola nada yang sempurna sambil mencapai efek emosional dengan kompleksitas yang luar biasa. Baris pembuka puisi pertama:
> 玉露凋伤枫树林 (Embun giok layu dan melukai hutan maple) > 巫山巫峡气萧森 (Gunung Wu, Ngarai Wu — udaranya suram dan suram)
Setiap karakter memiliki berbagai fungsi: semantik, musikal, imajinasi, dan emosional. "Embun giok" (玉露 yùlù) adalah embun beku yang meningkatkan keindahan. "Layu dan luka" (凋伤 diāoshāng) membuat alam menjadi ganas. Pengulangan kata "Wu" menciptakan dentuman genderang kesedihan.
Pengembaraan Terakhir
Du Fu meninggalkan Chengdu pada tahun 765 dan menghabiskan sisa hidupnya di Sungai Yangtze, menjadi tunawisma dan semakin sakit. Dia banyak menulis selama periode ini — puisi tentang kemiskinan, penyakit, keindahan pemandangan sungai, dan kepeduliannya yang tiada henti terhadap kesejahteraan kekaisaran.
Puisinya "Mendaki Ketinggian" (登高 Dēng Gāo) — sering disebut sebagai single terbaik lǜshī dalam sastra Tiongkok — ditulis pada periode ini:
> 万里悲秋常作客 (Sepuluh ribu li jauhnya, dalam kesedihan dan musim gugur, selalu menjadi tamu) > 百年多病独登台 (Seratus tahun sakit, sendirian aku memanjat teras)
Bait paralel ini mengemas seluruh kehidupan ke dalam dua baris: jarak pengasingan yang sangat jauh, kesedihan musim gugur yang tak henti-hentinya, tunawisma seumur hidup, penyakit yang menumpuk, kesendirian di usia tua. Setiap karakter mendapatkan tempatnya; setiap paralel beresonansi.
Du Fu meninggal pada tahun 770, mungkin di atas perahu di Sungai Xiang. Usianya lima puluh delapan tahun. Penyebab kematiannya tidak pasti - salah satu tradisi mengatakan dia kelaparan; yang lain mengatakan dia meninggal setelah makan terlalu banyak setelah kelaparan. Kedua versi tersebut mencerminkan kemiskinan yang membayangi sepanjang hidupnya.
Warisan
Warisan Du Fu sangat besar dan berkelanjutan. Di Tiongkok, dia adalah standar yang digunakan untuk mengukur semua penyair. Setiap penyair berikutnya yang menulis tentang perang, penderitaan, atau keadilan sosial — dari Lu You (陆游 Lù Yóu) pada Dinasti Song hingga Ai Qing pada abad kedua puluh — bekerja dalam bayang-bayang Du Fu.
Otoritas moralnya berasal dari kesatuan seni dan kehidupannya. Dia menulis tentang penderitaan karena dia menderita. Dia menulis tentang belas kasih karena dia merasakannya - tidak secara abstrak, namun dengan empati yang spesifik dan terperinci seperti seorang wanita tua yang menjadi sukarelawan untuk dinas militer, seorang anak yang sekarat karena kelaparan, hujan musim semi yang menyehatkan tanaman. Judul "Sage of Poetry" mencerminkan hal ini: Puisi Du Fu bijaksana bukan karena menyebarkan kebijaksanaan tetapi karena memperhatikan dunia dengan kepedulian yang merupakan bentuk cinta.