Di Tiongkok Dinasti Tang, mengatakan selamat tinggal kepada seorang teman bisa berarti tidak pernah bertemu lagi. Kekaisaran membentang ribuan mil. Perjalanan dilakukan dengan kuda, perahu, atau berjalan kaki. Penugasan ke perbatasan bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk sampai. Penyakit, perampok, dan cuaca buruk sering mengakibatkan kematian para pelancong. Ketika Anda melambaikan tangan kepada seseorang di gerbang kota, Anda benar-benar tidak yakin apakah mereka akan selamat dalam perjalanan.
Inilah sebabnya puisi perpisahan (送别诗 sòngbié shī) menjadi salah satu genre terpenting dalam sastra Tionghoa. Ini bukan sekadar isyarat sosial yang sopan. Mereka adalah tindakan bertahan secara emosional.
Ritual Perpisahan
Perpisahan dalam budaya Tionghoa mengikuti ritual tertentu. Orang yang pergi dan teman-temannya akan berkumpul di tempat yang ditentukan — biasanya di paviliun (亭 tíng) di luar tembok kota, atau di tepi sungai tempat perahu berangkat. Mereka akan minum anggur, menyusun puisi untuk satu sama lain, dan mematahkan cabang willow (折柳 zhé liǔ) sebagai hadiah perpisahan.
Willow (柳 liǔ) dipilih karena namanya terdengar seperti "tinggal" (留 liú). Memberikan seseorang cabang willow secara harfiah berarti mengatakan "tinggal" tanpa mengatakannya. Willow juga bisa dibengkokkan tanpa patah — sebuah harapan bahwa pelancong akan cukup fleksibel untuk bertahan menghadapi apa pun yang datang setelahnya.
Ini bukan pertemuan biasa. Pejabat pemerintah sering dipindahkan ke provinsi jauh, dan pesta perpisahan bisa jadi adalah terakhir kalinya sekumpulan teman berkumpul secara utuh. Puisi-puisi yang ditulis pada acara ini disimpan, disalin, dan diedarkan. Banyak puisi terhebat dalam sastra Tionghoa ditulis di pesta perpisahan.
Perpisahan Wang Wei di Weicheng
Puisi perpisahan paling terkenal dalam bahasa Tionghoa mungkin adalah puisi Wang Wei (王维 Wáng Wéi) "Melihat Yuan Er dalam Misi ke Anxi" (送元二使安西 Sòng Yuán Èr Shǐ Ānxī):
> 渭城朝雨浥轻尘,客舍青青柳色新。 > 劝君更尽一杯酒,西出阳关无故人。 > Hujan pagi di Weicheng membasahi debu ringan. Penginapan itu hijau, willow tampak segar. > Saya mendesak Anda — minumlah satu cangkir lagi. Di barat Gerbang Yang, tidak ada teman lama. > (Wèichéng zhāo yǔ yì qīng chén, kèshè qīngqīng liǔsè xīn. Quàn jūn gèng jìn yī bēi jiǔ, xī chū Yángguān wú gùrén.)
Gerbang Yang (阳关 Yángguān) adalah gerbang menuju Wilayah Barat — Asia Tengah, Jalur Sutra, tepi dunia yang dikenal. Di luar sana, Yuan Er tidak akan menemukan siapa pun yang mengenalnya, tidak ada yang berbagi bahasa atau budayanya. "Minumlah satu cangkir lagi" dalam puisi Wang Wei bukanlah minum sosial. Itu adalah keputusasaan yang dibalut sebagai keramahtamahan.
Puisi ini sangat populer sehingga diaransemen menjadi lagu dan dikenal sebagai "Triple Gerbang Yang" (阳关三叠 Yángguān Sān Dié) — melodi yang diulang tiga kali, sekali untuk setiap lapisan emosional: keindahan pagi, urgensi anggur, kekosongan di balik gerbang.
Li Bai di Menara Burung Kuning
Li Bai (李白 Lǐ Bái) menulis puisi perpisahannya untuk Meng Haoran (孟浩然 Mèng Hàorán) di Menara Burung Kuning (黄鹤楼 Huánghè Lóu) di Wuhan: Jika ini menarik bagi Anda, lihat Li Qingzhao: Penyair Perempuan Terhebat Tiongkok.
> 故人西辞黄鹤楼,烟花三月下扬州。 > 孤帆远影碧空尽,唯见长江天际流。 > Teman tuaku meninggalkan Menara Burung Kuning, bunga asap bulan Maret menuju Yangzhou. > Perahu sepi melayang jauh, hanya terlihat Sungai Yangtze mengalir di garis langit.
Puisi ini menggambarkan betapa beratnya perpisahan dan keindahan persahabatan, menunjukkan kekuatan emosi yang terjalin dalam tradisi puisi perpisahan Tiongkok.